SIAPA yang pernah ke Bangkinang? Ibukota dari Kabupaten Kampar, Riau yang berjarak 60km dari Kota Pekanbaru ini memiliki banyak kontroversi tentang asal usul terbentuknya.

Ada yang mengatakan bahwa orang Bangkinang berasal dari Sumatera Barat, karena memang Kabupaten Kampar sendiri berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Barat. Pendapat ini dijadikan alasan yang sangat kuat karena budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan hingga gaya bangunan memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat.

Selain itu juga ada yang mengatakan bahwa suku Ocu -sebutan untuk orang-orang Bangkinang berasal dari Melayu daratan. Hal ini disebabkan daerah Riau memiliki persamaan sifat dan karakteristik yang dimiliki dengan suku Ocu tersebut.

Diantara banyaknya kontroversi tentang asal usul Bangkinang, ada beragam adat istiadat dan tradisi yg masih dipegang teguh oleh masyarakat Bangkinang hingga dewas ini, salah satunya momen hari Rayo Onam (hari Raya Enam).

Adat hari Rayo Onam ini merupakan hari raya setelah melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal atau tepatnya pada tanggal 7 Syawal.

Hari raya ini oleh masyarakat setempat merupakan hari berbagi dan bersilaturrahmi antar sesama baik masyarakat sekitar maupun para perantau yang telah lama meninggalkan kampung. Pada perayaan ini semua perantau diwajibkan pulang ke kampung dengan membawa serta seluruh anggota keluarga untuk diperkenalkan ke warga kampung.

Tradisi ini setiap tahunnya selalu diisi dengan berbagai kegiatan seperti mengarak-arak anak yatim menuju pinggiran sungai, sesampainya di pinggir sungai kemudian diadakan makan bersama anak yatim, seluruh warga dan warga perantau. Setelah acara jamuan selesai kemudian dilanjutkan dengan pesta rakyat seperti pacu goni, panjat pinang dan tarik tambang bagi pemuda-pemudi untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama.

Di beberapa daerah seperti di Kecamatan Bangkinang Seberang, Bangkinang Tambang, dan Bangkinang Barat, serta daerah lainnya melakukan ziarah kubur yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka mempercayai bahwa orang yang telah meninggal masih mempunyai hubungan dengan orang-orang yang masih hidup terutama orang dekatnya seperti anak-anak dan keluarganya.

Ziarah kubur sendiri bertujuan untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia agar jiwanya merasa tenang dan tentram di alam kubur.

Ziarah kubur merupakan anjuran dari Nabi Muhamad SAW, karena dengan memberikan doa kepada mereka yang telah meninggal dapat memberikan perlindungan pada arwahnya serta sebagai pengingat bagi kita yang masih hidup supaya selalu meningkatkan keimanan kita kepada Allah, seolah-olah kita akan mati esok hari.

Hingga kini, perayaan hari Rayo Onam masih dijalankan dan bahkan menjadi salah satu ikon dari Bangkinang sebagai salah satu objek wisata religi yang bisa dibanggakan.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan