BANDA ACEH – Keberadaan posisi geografi Aceh yang berdekatan dengan area Megrathrust Sunda, rentan sebagai lokasi yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Untuk mengurangi dampak negatif dari bencana di masa yang akan datang, Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 menetapkan beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan yang dapat dimanifestasikan melalui pendidikan yang diharapkan dapat mengurangi dampak dari bencana.

Pengurangan resiko bencana dilakukan bukan hanya dengan aksi tetapi juga dengan pendidikan salah satunya melalui pameran di Museum Tsunami Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, mengapresiasi kinerja pengelola UPTD Museum Tsunami Aceh yang menyelenggarakan pameran temporer dengan tema “Jendela Masa Lalu” yang dibuka Senin, 1 November 2022 di ruang pameran sementara.

“Studi yang telah dilakukan oleh peneliti pascatsunami mengungkap sejarah tsunami di masa lalu yang telah berlali-kali menghantam wilayah pesisir provinsi Aceh yang dibuktikan dari penemuan Paleo Tsunami (endapan tsunami purba) yang berada di Guha Ek Luntie,” kata Almuniza.

Informasi yang dihimpun dari penelitian yang telah dilakukan pada gua di wilayah Aceh Besar ini, Aceh telah dilanda 11 kali bencana tsunami. Melalui pameran ini, pihak Museum Tsunami ingin menyadarkan masyarakat bahwa Aceh adalah daerah yang rawan bencana.

“Saya mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam pameran ini agar mengetahui informasi yang jelas mengenai 11 kali bencana tsunami yang terekam di Guha Ek Luntie,” ajak Almuniza.

Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra AZ, mengungkapkan pameran yang digelar ini sebagai bentuk informasi dan literasi kepada pengunjung, bahwa pada masa lalu Aceh juga pernah dilanda tsunami purba yang terekam di Guha Ek Luntie.

“Dengan adanya pameran ini, museum ingin mengedukasi masyarakat khususnya kaula muda, agar lebih mawas diri dan siap akan bencana yang kapan saja bisa melanda Aceh” ujar Armila.

Lebih lanjut, Armila menngungkapkan, akses menuju Guha Ek Luntie sangatlah jauh dan sulit. Dengan adanya pameran ini informasi yang terekam pada guha tersebut dapat dengan mudah diakses masyarakat.

“Ada banyak endapan-endapan yang dipisahkan oleh kotoran kelelawar, cangkang kerang dan pecahan-pecahan gerabah di mulut guha. Ini menceritakan ada kehidupan masa lalu yang ikut terdampak bencana tsunami purba di wilayah Aceh,” pungkas Syahputra.

Koleksi yang ada pada pameran temporer kali ini, sebut Syahputra, ada yang didatangkan langsung dari Guha Ek Luntie serta ada juga beberapa koleksi replika.

Pameran temporer “Jendela Masa Lalu” bisa diakses langsung oleh pegunjung mulai 1 November 2022 hingga adanya pemeran temporer berikutnya.

Sebagai informasi, dalam setahun Museum Tsunami telah menggelar sebanyak 3 (tiga) kali pameran temporer (sementara) sehingga para pengunjung tidak bosan dan dapat mengangses beragam informasi pada museum.

SHARE
Aulia Fitri
Blogger, Citizen Journalism, Social Media Interest, Digital Media | CEO of genpinews.com. Contact on Twitter @hack87

Leave a Reply