Wisata Rasa di Festival Kuliner Aceh 2018

"Orang Aceh menanam ganja di depan rumahnya dan dijadikan sayur untuk makanan sehari-hari"

0
113

BILA membahas kuliner Aceh yang terbayang oleh mu pasti mi Aceh dengan rasa khas karena racikan bumbunya. Jika kamu pernah merasakannya, pasti kamu ingin lagi, lagi dan lagi. Bagi kamu yang bukan orang Aceh, pasti selalu merindukan makanan yang menggugah selera ini.

Mi Aceh yang terbuat dari rempah pilihan, membuatnya sungguh berbeda dengan mi lainnya. Bahkan ada yang mengatakan “karena mi Aceh pakai ganja, makanya enak.” Padahal semua itu jelas hoax karena tidak semudah itu mendapatkan ganja di Aceh.

Dua tahun yang lalu sempat heboh dengan pernyataan seorang ustaz yang mengatakan bahwa, “orang Aceh menanam ganja di depan rumahnya dan dijadikan sayur untuk makanan sehari-hari.”

Sontak masyarakat Aceh tidak terima dengan pernyataan ustaz yang sama sekali belum pernah datang ke Aceh dan menyaksikan langsung bagaimana kehidupan orang Aceh. Akhirnya ustaz tersebut meminta maaf atas sikapnya yang asal bunyi terhadap orang Aceh.

Okeh, kita tinggalkan sejenak tentang isu yang telah berlalu itu. Kita beralih ke kulinernya yang super lezat. Mi Aceh hanya salah satu bagian dari kuliner Aceh yang mempunyai citra rasa tinggi. Namun, banyak kuliner lainnya yang bisa kamu rasakan dan pastinya ketagihan.

Misalnya seperti gulai kuah beulangong yang masaknya di kuali besar berisi daging kambing, kerbau, atau pun sapi. Biasanya dimasak pada acara kenduri besar seperti pesta pernikahan, maulid nabi, dan lebaran.

Selain itu juga ada ayam kampung yang dimasak menggunakan daun temurui (koja) sehingga rasanya gurih dan lezat. Ada Sate Matang yang makannya menggunakan nasi putih, asam udeung yang menggunakan belimbing wuluh tanpa dimasak, tapi digiling sebagai sambal.

Semuanya itu dimasak dengan menggunakan rempah-rempah berkualitas tinggi sehingga rasa enak dan lezat. Jadi, bukan masaknya pakai ganja ya? Karena selain ganja banyak rempah-rempah lain yang dijadikan sebagai bumbu makanan dan tentu halal untuk dimakan.
Aceh Termasuk Jalur Rempah

Aceh Termasuk Jalur Rempah

Untuk melawan lupa, aku ingatkan kembali bagaimana bangsa Eropa datang ke negeri kita untuk mendapatkan benda paling berharga yaitu rempah-rempah. Harganya lebih tinggi dibandingkan emas dan permata, sehingga seluruh bangsa di belahan dunia rela berperang untuk datang ke Asia termasuk nusantara, mengambil benda yang bernama rempah ini.

Tepatnya pada abad ke-16, penjelajahan bangsa Eropa seperti Christopher Columbus dari Italia dan Vasco de Gama dari Portugis mencari jalan ke daerah asal rempah-rempah. Komuditas rempah yang sangat dicari yaitu pala, cengkeh, dan lada karena harganya termahal di Eropa.

Bagi siapa yang mengetahui jalur rempah dan bisa menguasainya, maka mereka dianggap sebagai bangsa yang berkuasa, hingga ekspedisi penjelajah Eropa pun dilakukan sangat agresif.

jalur rempat acehKala itu Vasco de Gamma yang berasal dari Portugis berhasil mendarat ke Malaka pada tahun 1511. Sebelumnya berhasil mencapai India melewati jalur Afrika, hingga akhirnya mendapatkan jalur menuju Malaka yang merupakan pusat perdagangan terbesar di Asia. Di mana rempah dari seluruh penjuru dunia tersimpan di sini.

Sangking pentingnya Malaka sebagai jalur rempah ada pepatah yang mengatakan, “Whoever is lord of Malacca has his hand on the throat of Venice” (Siapa yang berhasil menguasai Malaka, bisa mencekik Venesia).

Venezia di ItaliaSaat itu Venesia yang berada di Italia merupakan bangsa yang memonopoli sistem perdagangan dunia. Navigator terbaiknya adalah Christopher Columbus. Dengan ditemukannya jalur rempah oleh Vasco De Gamma menjadikan bangsa Portugis sebagai bangsa penguasa rempah dan mengalahkan monopoli perdagangan yang sebelumnya dikuasai Venesia.

Sejak itu bangsa Portugis berbondong-bondong ke nusantara untuk mengambil rempah, maka terjadilah perang untuk memperebutkan benda-benda yang biasa digunakan sebagai bahan-bahan pengisi dapur ini. Mereka membawa rempah-rempah yang ada di nusantara untuk mensejahterakan bangsa mereka.

Ekspedisi maritim dan perdaganagan rempah sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Portugis. Apalagi dia menemukan sumber terbesar rempah di Maluku dan menjalin kerjasama dengan Sultan di Ternate, sehingga kapal-kapal Portugis yang tiba di Ternate pada tahun 1512 terisi penuh dengan pala dan cengkeh saat kembali ke daerahnya pada tahun 1521.

Selama ratusan tahun rempah-rempah dari nusantara diangkut oleh kapal-kapal ekspedis Portugal dan dijual kembali di pasar Eropa dengan harga yang cukup tinggi. Sebagian lainnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dapur untuk bumbu makanan.

Masyarakat Portugis benar-benar memanfaatkan momen itu untuk meraup keuntungan dari rempah yang dibawanya dari nusantara. Mereka terlalu bernafsu untuk menguasai jalur rempah. Berbagai politik adu domba dilakukannya untuk mengguncang beberapa kerajaan di nusantara. Mereka menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.

jalur tempat dari aceh hingga malukuBangsa Portugis berhasil menguasai Malaka selama periode 1511-1526 dengan mengalahkan Kerajaan Malaka dan mengambil pelabuhan maritim di nusantara. Ternyata ini justru membawa hikmah bagi Aceh karena para pedagang Islam yang mulanya berdagang di Malaka, pindah haluan menuju ke Aceh.

Perdagangan di Aceh pun semakin ramai dan berkembang menjadi bandar dan pusat perdagangan. Oleh karena itu, muncul keinginan Portugis untuk menguasi Aceh.

Aceh juga mempunyai hasil rempah seperti cengkeh, pala, dan lada yang dicari Portugis. Pada tahun 1523 Portugis melancarkan serangan ke Aceh di bawah pimpinan Henrigues dan pada tahun 1524 dipimpin oleh de Sauza. Semua serangan itu gagal, meskipun mereka memburu kapal-kapal dagang Aceh yang sedang berlayar di Laut Merah, tapi semua itu dapat dilawan oleh orang Aceh yang melengkapi kapal dagangnya dengan persenjataan, meriam, dan prajurit.

Aceh juga meminta bantuan kepada Turki untuk mengusir Portugis dari Aceh, hinga akhirnya pada awal abad ke-17 Portugis tidak hanya lari dari Aceh, tapi juga melepaskan Malaka. Semua itu berkat perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Saat itulah Aceh berada puncak kejayaannya, sehingga rempah-rempah di belahan nusantara dapat dipertahankan.

Nah, itulah sejarah singkat tentang jalur rempah dan betapa pentingnya daerah-daerah yang menghasilkan rempah bagi negara-negara Eropa. Yang aku ceritakan di atas, itu baru satu tahap karena setelahnya penjajah lain yaitu Belanda datang ke nusantara untuk mengasai jalur rempah ini. Namun, aku tidak menjelaskannya di tulisan ini karena nanti akan terlalu panjang. Kamu bisa melihatnya di buku sejarah atau video tentang jalur rempa Nusantara.

Mencicipi Kuliner Aceh

Begitu panjangnya sejarah untuk mempertahankan barang yang menjadi bahan pengenyang perut sekaligus pelega mulut ini. Dia adalah rempah, dimana orang sampai berperang untuk memperebutnya.

Untungnya sampai saat ini kita masih mempunyai barang tersebut yang tersaji dalam kuliner nusantara. Inilah mengapa makanan nusantara yang sekarang disebut Indonesia sangat enak dan pas dimulut. Semua itu karena bahan-bahannya yang masih tersedia di dapur orang kita.

Dari jejak rempah itu pun sekarang bisa dijadikan sebagai wisata kuliner tradisonal nusantara. Atau pun juga bisa dijadikan wisata rempah seperti yang dikatakan oleh Ketua Yayasan Negeri Rempah Bram Kushaddjanto yang akan mengfokuskan beberapa daerah Indonesia untuk wisata rempah seperti Ternate, Gorontalo, Maluku, Aceh, Banjarmasin, Bali, Banten, dan Jakarta.

Kementrian Pariwisata (Kemenpar) pun mulai menyusun jalur wisata rempah lewat aspek kuliner yang rencananya diresmikan pada tahun 2020 (CNN Indonesia).

Ini tentunya hal yang hebat menurutku, karena kita bisa merasakan kejayaan masa lalu lewat wisata rempah dan kuliner. Untuk itu, inovasi harus terus dilakukan seperti yang nantinya dihelat di Tanoh Rencong, yakni Festival Kuliner Aceh (Aceh Culinary Festival) 2018.

aceh culinary festival 2018Kegiatan ACF ini senidir nantinya akan menampilkan pembaharuan wajah kuliner tradisional agar terlihat menarik dari segi penampilannya. Sehingga kastanya naik dari sederhana menjadi premium yang bisa dipajangkan di etalase restoran dan hotel.

Di sinilah saatnya makanan tradisional akan bersaing dengan makanan Eropa yang selama ini terlihat elegan, padahal bahan dasarnya bersal dari daerah kita.

Kita juga berwisata rasa di even ini karena para pengunjung bisa memcicipi makanan yang disajikan. Selain itu kita juga bisa belajar membuatnya dengan bahan rempah yang biasa kita temukan di dapur. Tentu sangat menarik bukan?

wisata kuliner di acehNah, bagi kamu yang tertarik untuk mencicpi makanan tradisioanal dari bahan rempah yang dulunya diperebutkan oleh bangsa Eropa, silakan datang dan berkunjung ke Aceh pada tanggal 4-6 Mei 2018. Acaranya akan dilangsungkan di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Sebuah lapangan tempat berdirinya duplikat RI-001 Seulawah yang merupakan cikal bakal dari penerbangan Garuda Indonesia.

Pasti kamu sudah tahu tentang hal itu kan? Sejak kemunculan Nyak Sandang pemilik obligasi dari pembelian pesawat pertama untuk bangsa Indonesia tercinta ini.

replika pesawat garuda indonesiaJadi, luangkan terus waktumu untuk tiga hari itu supaya bisa menikmati Festival Kuliner Aceh. Tema yang diangkat kali ini yaitu “New Traditional: Look and Taste Good”, di mana terdapat 23 kabupaten se-Aceh dan daerah lain nusantara yang akan menyajikan kuliner khasnya masing-masing.

Selain itu makanan dari berbagai mancanegara juga ikut meramaikan festival ini. Negara seperti Malaysia, Jepang, Thailand, Turki, dan Italia juga ikut menyajikan kulinernya yang ku yakin bahannya dari rempah nusantara.

Oleh karena itu, ada tiga zona yang membagi kuliner di fetival ini sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Zona pertama yaitu Aceh Traditional Food Market untuk penikmat kuliner lokal. Kedua, Aceh Culinary Innovation yang menyajikan inovasi dari kuliner Aceh, dan yang ketiga Food & Fun Festival.

Semakin penasarankan bagaimana even ini dilangsungkan? Sudahlah, pesan tiket untuk menuju Aceh terus bagi kamu yang berada di luar Aceh. Semoga bisa menyaksikan Festival Kuliner Aceh dan sampai jumpa juga denganku dari anggota GenPI Aceh. Salam gass!

salam gass dari Yelli dan Sudar

Tinggalkan Balasan