‘Coworking Space’ Bisa Mendorong Pengembangan Nomadic Tourism

Nomadic tourism itu mudah dan murah. Hanya perlu ada atraksi pariwisata yang menarik, maka pengadaan akses dan amenitas

0
22
Foto: swa.co.id

JAKARTA – Menjamurnya ruang kerja bersama atau yang lebih dikenal sebagai coworking space turut mendorong pengembangan pariwisata nomaden (nomadic tourism) yang tengah dikembangkan pemerintah.

Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata Hiramsyah S. Thaib menilai, menjamurnya ruang kerja bersama dilatarbelakangi perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup dan pola kerja yang melahirkan para digital nomad, yang menjadi salah satu bagian dari nomadic tourism.

Digital nomad sendiri merupakan istilah yang kerap digunakan untuk menjelaskan profesi seseorang yang menggantungkan hidupnya melalui teknologi telekomunikasi, dan bekerja secara berpindah-pindah. Menurutnya, saat ini wisatawan asing yang menjadi digital nomad kerap ditemui di sejumlah destinasi wisata seperti Bali dan Bandung, dan berpotensi untuk berkembang di destinasi pariwisata lainnya.

“Akan mulai tumbuh di destinasi pariwisata lainnya yang sudah mulai memiliki persyaratan ekosistem dukungan teknologi telekomunikasi dan internet yang bagus,” ujarnya, Minggu (8/4/2018).

Dia menjelaskan, terdapat tiga macam digital nomad, antara lain pekerja perusahaan yang bekerja dari luar kantor dan berpindah-pindah, pekerja lepas, hingga pengusaha atau pemilik perusahaan rintisan. Perpindahan para digital nomad ini tak terbatas hanya lintas kota, tetapi bahkan lintas negara dan lintas benua.

Dia menilai pertambahan jumlah digital nomad pun terus bertambah seiring dengan meningkatnya minat generasi muda untuk menjadi pekerja lepas. Hal inilah yang ditangkap pemerintah sebagai peluang pengembangan pariwisata.

“Ada beberap hal yang menyangkut digital nomad dan nomadic tourism, mulai dari lokasi urban seperti ruang kerja bersama, ekosistem dan suasana kerja termasuk ketersediaan internet, hingga biaya hidup untuk membuat orang pindah dari Sillicon Valley misalnya ke Bali atau Jakarta atau Yogyakarta,” ujarnya.

Situs nomadlist.com, yang menjadi referensi bagi para digital nomad ini bahkan menempatkan Canggu (Bali) sebagai destinasi terbaik. Setelah Canggu, Ubud berada di urutan 6, Denpasar nomor 14, dan Yogyakarta pada strip 74 dunia. Hiramsyah menyebut, daerah pariwisata lain seperti Yogyakarta dan Lombok juga berpotensi untuk menggarap potensi yang dihasilkan dari para digital nomad ini.

Data Kementerian Pariwisata menyebut, saat ini diperkirakan jumlah backpacker di seluruh dunia mencapai 39,7 juta orang. Mereka pun terbagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu flashpacker atau digital nomad yang memiliki potensi jumlah sekitar 5 juta orang. Mereka biasanya menetap sementara di suatu destinasi wisata sembari bekerja.

Kelompok lainnya adalah glampacker atau yang juga populer disebut sebagai milenial nomad, yang diperkirakan jumlahnya mencapai 27 juta orang di dunia. Mereka biasanya bepergian ke daerah pariwisata yang menarik untuk difoto dan dipamerkan di media sosial.

Sementara kelompok ketiga adalah luxpacker atau luxurious nomad, yang diestimasikan berjumlah 7,7 juta orang. Mereka mengembara untuk melupakan hiruk pikuk aktivitas dunia.

Foto: magazine.job-like.com

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pariwisata Arief Yahya kerap mengatakan bahwa pihaknya tengah mendorong lahirnya destinasi pariwisata digital dan pariwisata nomaden ini. Kedua konsep pengembangan pariwisata ini dinilai sangat cocok untuk menampung hasrat berwisata generasi muda.

Pihaknya bahkan kerap mengibaratkan konsep pariwisata nomaden ini sebagai solusi sementara yang akan menjadi solusi selamanya. Pasalnya, pariwisata nomaden ini merupakan strategi untuk menyiasati berbagai destinasi pariwisata Indonesia yang belum memiliki infrastruktur yang memadai.

“Nomadic Tourism juga awalnya kita pikirkan untuk sementara, karena atraksi di destinasi kita terlalu banyak yang cantik, sementara akses dan amenitasnya belum terjangkau. Nomadic tourism adalah solusi sementara untuk membuat semua destinasi cantik itu bisa hidup dan berkembang,” ujarnya.

Dia menjelaskan, konsep destinasi digital dan pariwisata nomaden ini merupakan tema utama yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata I yang diselenggarakan di Bali pada Maret lalu. Hasi rakornas tersebut menyebutkan Kemenpar akan mendorong pembangunan 100 destinasi digital di 34 provinsi dan pariwisata nomaden di 10 destinasi pariwisata prioritas, di mana empat daerah yang menjadi proyek percontohan adalah Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur.

”Nomadic tourism itu mudah dan murah. Hanya perlu ada atraksi pariwisata yang menarik, maka pengadaan akses dan amenitas bisa dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang bisa dipindah. Misalnya pembangunan glamp camp atau dengan live on board,” lanjutnya lagi.

Pihaknya pun akan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk mendata wilayah yang berpotensi dibangun berbagai amenitas pariwisata nomaden seperti caravan, glamping camp site, dan home pod site. Untuk aksesibilitas, alat transportasi yang dianggap paling tepat untuk pariwisata nomaden di negara kepulauan ini adalah seaplane, helicopter, dan lifeboat.

Tinggalkan Balasan