Mewujudkan Mimpi di Pantai Tongacie Saat Bangka Cultural Wave 2018

Pasir putihnya bagus. Saya senang bisa tampil di festival ini. Apalagi, wilayah ini budayanya sangat beragam dan sangat bagus

0
38

SUNGAILIAT – Penyelenggaraan Bangka Culture Wave Festival 2018 resmi dimulai, Sabtu (24/3/2018). Lokasinya, ada di Tongacie de’Locomotif, Sungailiat, Bangka. Pemilihan pantai ini sangat tepat. Wisatawan pun memujinya. Menurut mereka, berada di Pantai Bangka seperti dalam mimpi.

Penyelenggaraan Bangka Culture Wave Festival 2018 mengangkat tema ‘Coming Home’. Festival ini menyajikan aneka seni dan budaya dari berbagai negara. Ada Amerika Serikat, Argentina, Venezuela, dan Hungaria. Kemeriahan multikultural ini menyatu dengan keindahan panorama pantai-pantai Bangka.

“Saya baru pertama ke Bangka. Panoramana pantai-pantai di sini bagus dan sangat cantik. Bagi saya ini seperti dalam mimpi saja. Sebab, semuanya memang indah,” ungkap pengisi Vokal Seni Budaya Antar Bangsa, Dora Gyorfi, asal Hungaria.

Festival ini memang seksi. Sebab, nuansa pantai sangat khas. Pantai yang memiliki pasir putih lengkap dengan batu-batu granit besarnya. Belum lagi debur ombak dan gulungan airnya yang berwarna kehijauan. Hal ini menjadi penegas eksotisnya suasana. Keragaman budaya Bangka juga membuat kagum wisatawan.

“Pasir putihnya bagus. Saya senang bisa tampil di festival ini. Apalagi, wilayah ini budayanya sangat beragam dan sangat bagus. Kami antusias untuk memberikan pertunjukan yang terbaik,” kata Dora lagi.

Berkolaborasi dengan beberapa rekan lintas negaranya, performa Dora sangat menyegarkan. Dengan komposisi aransemen medley, Dora berhasil menghipnotis pengunjung acara pembukaan dengan suara khasnya. Ia membawakan lagu rakyat yang populer di Hungaria.

“Lagu ini kami dibawakan dengan sangat melankolis. Biasanya membawakan Lagu Rakyat Hungaria ini dengan dukungan konsep metafora. Background menggunakan konsep penggambaran alam. Ada matahari dan bulan, tapi di sini langsung dengan nuansa laut,” jelas Dora.

Seni budaya antar bangsa juga akan digelar Minggu (25/3). Yaitu mulai pukul 10.00 WIB di Pantai Tongacie. Komposer Seni Budaya Antar Bangsa Galih Nagaseno menerangkan, tema World Music diusung untuk mengakomodir kolaborasi musisi dari berbagai negara tersebut. Meski demikian, kesenian khas tradisional karawitan dan tari kontemporer juga menjadi paket yang menarik.

“Kami baru sekali ini ke Bangka dan panoramanya bagus. Bisa berkolaborasi dengan seniman Barongsai tentu sangat menarik. Yang jelas kami tampilkan semua secara maksimal dan dibuat unik. Di sini juga ada komposer dari mancanegara dan untuk vokal dari Hungaria. Semua unsur etnis akan ditampilkan di sini,” terangnya.

Beragam alat musik digunakan untuk mendukung performa Seni Budaya Antar Bangsa. Diantaranya banjo, cak cuk atau ukulele, juga darbuka. Ada juga danmoi yang berasal dari Thailand.

“Kami gunakan banyak tipe alat untuk menghasilkan musik yang bagus dan berkelas. Yang jelas, kami ingin memberikan nuansa berbeda di festival ini,” jelas Galih.

Pertunjukan Seni Budaya Antar Negara ini banyak mendapatkan apresiasi dari pengunjung. Terlebih komposisi musik yang mereka ciptakan sangat unik.

Menteri Pariwsata Arief Yahya mengatakan, pertunjukan budaya lintas negara semakin memperkaya Bangka Culture Wave Festival. Konsep-konsep seperti ini harus dipertahankan agar gaung event tetap besar.

“Bangka memang sanga eksotis. Bukan hanya pantainya, kulinernya juga enak. Siapapun harus mencoba kuliner-kuliner nikmat di sana. Yang jelas, pertunjukan budaya lintas negara ini sangat luar biasa. Semakin memperkaya dan menambah wawasan bagi wisatawan yang sedang berlibur di sana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan