BALI – Empat bulan lalu siapa sih yang kenal Pasar Karetan? Destinasinya nggak bisa di-tracking di Google Maps. Sinyal telepon enggan singgah di sana. Letaknya pun ada di tengah hutan karet Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jateng. Boleh dibilang, ini tempat jin buang anak.

Bila ditarik ke bisnis, dijamin tak akan ada investor yang mau meilirik tempat ini. Valuenya kecil. Aksesnya susah. Jalan menuju ke sana hanya tanah. Kalau hujan, dijamin becek. Wilayahnya sepi. Sangat terisolir. Masyarakat sekitarnya pun belum banyak yang sadar wisata.

Nah, cerita di awal November 2017 itu sekarang sudah berubah 180 derajat. Sekarang, Pasar Karetan sudah menjelma menjadi destinasi yang ngehits. Keren. Jumlah wisatawan yang datang setiap evennya selalu massif. Ada wisatawan lokal. Bule dari luar negeri. Pengunjungnya juga selalu massif. Jumlahnya selalu menembus di atas 4000 pengunjung. Saking okenya, industri pun sudah mulai berani melirik Pasar Karetan. Brand NutriSari W’dank sampai berani masuk sponsori Pasar Karetan.

Success Story ini dipaparkan juragan Pasar Karetan Mei Kristanti dengan sangat gamblang. Di hadapan ratusan peserta Rakornaspar I 2018 Bali, Mei memaparkan semuanya dengan detail. Stakeholder pariwisata yang hadir di Nusa Dua Convention Center Bali sampai dibuat tertegun. Semua dibuat senyap. Banyak yang tidak percaya bahwa dalam kurun waktu 4 bulan, barisan anak muda yang tergabung dalam Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jateng bisa membuat destinasi yang begitu paten.

“Datanya ada. Foto dan video-videonya juga ada. Ini fakta, bukan rekayasa,” tutur Mei, Jumat (23/3/2018).

Faktanya, nama Pasar Karetan di dunia maya memang melangit. Mau cari dimana? Twitter? Instagram? Facebook? YouTube? Blog? Semuanya ada. Foto-foto dan video yang diunggah ke dunia maya pun banyak mendapat pujian dari netizen. Tak hanya dari Indonesia, tapi juga sejumlah traveller asal Bangladesh, Slovakia, Kroasia, Zimbabwe, Malawi, hingga Belarusia.

Lantas apa yang membuat destinasi wisata Jogjakarat bisa ngetop? Destinasinya banyak dicari orang? Banyak dikomen wisatawan nusantara dan mancanegara?

“Jawabannya hanya satu. Kami di GenPI meng-create destinasi digital. Destinasinya kami buat instagramable. Spot selfienya banyak. Dan kami rajin mempromosikannya ke dunia maya,” akunya.

Seringnya orang bercerita mengenai perjalanan mengeksplore Pasar Karetan melalui blog pribadi dan akun medsos membuat nama Pasar Karetan naik daun. Sebab di media sosial, netizen tidak hanya berbagi melalui kata, tapi juga berbagi melalui foto-foto dan video. Inilah kekuatan sesungguhnya. Karena semua hal positif tadi bisa diakses dimanapun, bahkan bisa disaksikan seluruh dunia.

“Inspirasinya dari berbagai pasar di luar negeri yang unik-unik. Ada mall Marceau Market Perancis, Eat & Eat Gandaria dan lain-lain. Kemudian kami combine dengan budaya lokal khas Jawa Tengah,” ujar Mei.

Kuncinya ada di spot foto yang keren-keren. Yang instagramable. Objeknya kalau difoto dari sudut manapun terlihat wow. Atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang- semua terlihat eye catching. “Kalau sudah Instagramable pasti laku dijual. Itu mempengaruhi orang untuk datang lagi. Dekorasinya harus bagus. Agar terlihat kece buat foto-foto,” kata Mei.

Yang lebih penting lagi, semua harus digencarkan ke media sosial. Dan semua harus digas dengan akun real. Followersnya pun harus banyak. Harus asli, bukan hasil dari beli akun media sosial. “Sekarang pengunjung Pasar Karetan bisa mencapai 4 ribu orang. Kalau tidak asli, tidak akan bisa sebanyak itu,” ungkapnya.

Next step-nya, melakukan kurasi terhadap lapak-lapak yang akan berjualan di destinasi digital. Lapak harus sesuai dengan konsep pasar yang telah ditentukan. Makanan yang dijual juga harus jarang ditemui di tempat biasa.

“Jadi ada Role and Play. Dandanannya seperti apa sih? Rasa dan harganya? Harus enak harga bersahabat,” tutur Mei.

Ditambah dengan aktivitas yang selalu berganti, pengunjung pun jadi nggak gampang bosan untuk datang. Gimmick seperti lapak jualan, bakiak, enggrang, panahan, yang terus berganti setiap minggunya, terbukti mampu membuat pengunjung betah berlama-lama di destinasi baru ini.

“Untuk angle foto dan video jadi menarik,” paparnya.

Dengan semua trik tadi, omset Pasar Karetan saat ini sudah mencapai Rp30 juta hingga Rp40 juta per even. Kalau ditotal, per tahun omset pasar ini bisa mencapai Rp1,6 miliar-Rp1,9 miliar.

“Ini hebatnya destinasi digital. Ada efek ekonomi kerakyatan untuk masyarakat sekitarnya. Selain itu, juga memberikan wadah bagi generasi muda untuk berkreasi,” ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya yang ikut hadir di Rakornaspar I 2018 juga angkat bicara. Arah statemennya sama dengan Mei. “Itulah digital lifestyle anak-anak muda. Selalu memikirkan impression, objek foto Instagrameble, interaktif, viral, trending topic, dan tema-tema khas online sosial media. Di mana ada objek anti mainstream, di situ mereka berkumpul,” kata Arief.

Digital lifestyle itu, kata Arief, harus interaktif, berbasis online, bercerita dengan video, gambar, sedikit text, viral alias dari HP ke HP. Bukan lagi dari mulut ke mulut, karena mulut mereka adalah gadget, signal, dan wifi.

Tinggalkan Balasan