JAKARTA – Provinsi Maluku, baru saja merilis Calendar of Event (CoE) 2018 dengan tema ‘Sensasi Seribu Pulau’, di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin (12/3/2018). Pemerintah Daerah Maluku telah menyiapkan 23 acara sepanjang tahun ini yang akan dilaksanakan di tingkat kabupaten dan kota.

Tema tersebut diangkat untuk menggambarkan kekayaan Maluku, bahwa provinsi yang memiliki lebih dari 1.400 pulau itu memiliki keberagaman budaya dan adat istiadat yang memesona.

Selain itu, juga sudah menjadi rahasia umum bahwa Maluku juga dianugerahi keindahan alam bahari yang sangat menakjubkan.

“Dulu Maluku terkenal dengan rempah-rempahnya yaitu cengkeh dan pala. Dengan puluhan acara yang bakal digelar ini, diharapkan dapat mengembalikan citra Maluku tersebut dan menarik wisatawan untuk berkunjung,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua.

Sebagai salah satu kota peradaban tertua di Indonesia, Maluku mendapat prioritas dalam pengembangan amenitas dan aksesbilitas.

Dari 23 event yang diselenggarakan, ada 2 event besar yang masuk ke dalam 100 Kalender Wisata Indonesia 2018, yaitu Festival Teluk Ambon dan Pesta Rakyat banda. Kemenpar mendukung acara tersebut dengan dana Rp 1 milian.

“60 persen untuk promosi, 40 persen untuk event. Event harus dikurasi dengan baik,” ujar Menpar, Arief Yahya.

Sebagai destinasi prioritas, Kemenpar pun memberikan standarisasi untuk dua event yang masuk ke 100 Kalender Wisata Indonesia 2018.

“Musik, ini saya yakin sudah standar internasional. Fashion, harus standar nasional, sebut saja seperti Jember Fashion Festival. Koreografi harus level nasional,” ungkap Menpar.

Nantinya akan ada coaching bagi sebelum dua event tersebut dilaksanakan. Saat pelaksanaan Festival Teluk Ambon dan Pesta Rakya Banda pun akan didampingi langsung oleh Kemenpar.

“Sehingga nanti 23 event lainnya bisa seperti itu,” kata Menpar.

Terdiri dari banyak pulau, Maluku pun masih ketinggalan dalam amenitas dan aksesbilitas. Untuk itu Menpar mengusulkan Nomadic Tourism, yaitu jalan keluar sementara yang nantinya akan membangun suatu daerah. Bahkan menjadi jalan keluar tetap.

“Maluku sangat pas dengan Nomadic Tourism. Pembangunan wisata yang tidak tetap, sehingga bisa dialihkan ke tempat-tempat lain. Contohnya karavan, glamour camping dan hotel apung. Untuk amenitas, solved,” jelas Menpar.

Untuk masalah aksesbilitas, Menpar mengusulkan adanya Sea Plane. Karena pembangunan bandara akan memakan waktu yang lama, Sea Plane dianggap menjadi solusi bagi aksesibilitas di Maluku.

SHARE
Admin
GenPINews.com merupakan buah karya dari Generasi Piknik Indonesia yang dikelola oleh Tim Redaksi GenPI News Indonesia dengan jaringan yang ada di seluruh Indonesia.

1 COMMENT

Leave a Reply