Membedah Potensi Goa Seplawan di Purworejo

Familiarization Trip merupakan salah satu program wisata pengenalan Kemenpar untuk mempromosikan Indonesia yang berkonsep 'seeing is believing', yakni alami sendiri, lantas yakinkan bahwa Indonesia itu mengagumkan!

0
122

SUDAH berapa kalikah Anda mengunjungi Goa Seplawan? Goa Seplawan untuk warga Purworejo Jawa Tengah memang sudah tak terdengar asing di telinga. Sejak ditemukan di tahun 1979, Goa Seplawan seolah menjadi destinasi pertama paling diingat publik setempat. Cerita penemuan sepasang arca emas turut membangun popularitas Goa Seplawan. Ditemukan bekas bangunan untuk melakukan ritual di masa itu turut memberikan nilai historis. Jadi, kalau merasa belum cukup saat berkunjung di kesempatan pertama, Anda bisa berkunjung lagi kelak.

Sebagai salah satu masyarakat para praktisi senior di industri pariwisata nasional sejak 1971, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) yang bertujuan untuk meningkatkan citra pariwisata Indonesia, turut memberikan peran melalui aktivitas Familiarization Trip.

Familiarization Trip merupakan salah satu program wisata pengenalan Kemenpar untuk mempromosikan Indonesia yang berkonsep ‘seeing is believing’, yakni alami sendiri, lantas yakinkan bahwa Indonesia itu mengagumkan!

Dinparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Purworejo bersama ASITA Jateng, ASITA dan HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) DIY, GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Jateng, IBTC (In Bound Tourism Community) Jateng serta awak media di Purworejo, jauh-jauh hari telah menjadwalkan di tanggal 20-22/02/2018 lalu dengan aktivitas famtrip.

Hari pertama, sejumlah destinasi wisata menjadi obyek kunjungan, dimulai tengah hari bolong di Goa Seplawan.

Aktivitas awal dengan susur goa berjarak kedalaman horizontal mencapai lebih dari 750 meter itu masih memerlukan lampu senter di beberapa sudut dan lorong atau percabangan.

Pun begitu, detail stalaktit dan stalakmit membutuhkannya. Jua pada kedalaman jernih air yang hendak kita pijak, terkadang. Lampu penerangan yang ada tampak lebih variatif dengan beberapa warna.

Kelik, salah seorang petugas pemandu wisata menuturkan, siang itu ia sudah dua kali turun ke goa. Di hari ramai pengunjung tentu bisa lebih. Ia bergantian dengan rekan lain, tanpa memerinci seberapa kali dan seberapa jumlah rekannya untuk melakukan tugas tersebut.

Capai? Yups, capek! Kami! Sebaliknya, para petugas pemandu wisata itu bisa jadi lebih capek pada waktunya.

Kami pun lantas dipersilakan bergegas menuju kedai kuliner Goa Seplawan. Di situ ada gembel. Apa itu gembel? Maka jajallah gembel, adonan mirip rasa gebleg yang diisi sambal tempe mirip combro, dengan bentuk mirip pastel. Gembel bisa juga dibentuk sesuka yang bikin selagi mau dan mampu.

Di kedai kuliner itu kami bisa beristirahat sambil berbincang tentang Goa Seplawan. Mulai dari pengalaman berkunjung ke Goa Seplawan sebelumnya, akses pencapaian lokasi dari waktu ke waktu, perbaikan infrastruktur destinasi yang kita rasakan mendesak, integrasi pengembangan terkait destinasi digital, bahkan berbagai kemungkinan seiring kabar santer aktifnya NYIA alias New Yogyakarta Internasional Airport, April tahun depan.

Tak berlebihan kiranya, para pemangku kepentingan dalam industri pariwisata nasional sekalipun telah bersiap untuk bersikap berkenaan NYIA ini. Perilaku wisatawan bisa jadi berubah akibat pola kunjungan yang sangat bisa jadi mengalami perubahan akibat NYIA (NYIA effects).

Lalu lintas bandara memungkinkan wisatawan mendarat di waktu-waktu dini hari misalnya. Jika terjadi demikian, sebenarnya justru tersembul peluang untuk menawarkan destinasi yang pas untuk mereka. Sanggupkah Goa Seplawan menyajikan pesona terbitnya Sang Mentari?

Hendro Prahasto dari ASITA DIY mengakui jika penjajagan destinasi wisata di Purworejo perlu dilakukan bagi para pengelola jasa tour dan travel seiring dengan adanya perpindahan bandara dari wilayah Jogja ke Kulonprogo. Panjangnya jalur tembus antara bandara menuju Borobudur memberi peluang bagi Purworejo untuk masuk dalam paket wisata.

“Kami mencari destinasi yang ada di Purworejo dan Kulonprogo karena perlu mengintegrasikan kembali wisata-wisata yang berdekatan dengan bandara,’” ujarnya.

Itu salah satu contoh peluang.

“Kami promosikan kepada para pengelola agen tour dan travel. Karena merekalah yang mempunyai jangkauan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara,” kata Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Promosi Dinparbud Purworejo Lilos Anggorowati.

Menurutnya, keberadaan NYIA di Kulonprogo diyakini akan berdampak positif bagi perkembangan pariwisata Purworejo. Terlebih, dengan adanya akses jalan tembus Jogja-Borobudur yang melintasi kawasan timur Purworejo. Sejumlah destinasi wisata Purworejo berpeluang besar untuk menjadi jujugan wisatawan.

“Ini juga sejalan dengan program tahun kunjungan wisata Romansa Purworejo 2020. Kami ingin objek wisata Purworejo menjadi bagian dalam paket-paket wisata yang layak dikunjungi,” tambahnya.

Pun demikian, kita pun bisa berharap, kelak menjadi sesuatu yang tidak aneh seandainya tercapai. Hanya saja, sudah siapkah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melayani mereka yang tentunya lebih beragam tuntutan?

Perlengkapan terkait keamanan untuk susur goa, fasilitas ruang ganti atau toilet, gardu pandang atau tempat teduh lainnya jika hujan sewaktu-waktu, dan seterusnya.

Selanjutnya, hemat kata, bagaimana kita menyikapinya. Akankah lantas mengolah potensi peluang ini menjadi sesuatu yang bernilai kreatif sekaligus ekonomis, atau masih tertinggal dan bangga jadi penonton?

Dalam kesempatan berikutnya, sebuah forum untuk mendiskusikan ‘temuan-temuan’ di lapangan ini kemudian dilangsungkan. Banyak masukan, tentu juga bisa berarti karena banyak potensi.

Tentunya, sekian destinasi wisata yang ada di Purworejo amatlah mendesak untuk segera berbenah. Artinya tidak Goa Seplawan saja.

SUDAH berapa kalikah Anda mengunjungi Goa Seplawan? Goa Seplawan untuk warga Purworejo Jawa Tengah memang sudah tak terdengar asing di telinga. Sejak ditemukan di tahun 1979, Goa Seplawan seolah menjadi destinasi pertama paling diingat publik setempat.

Tinggalkan Balasan