BAGI sebagian orang, mungkin perayaan Imlek hanya berpacu pada kemeriahan melihat barongsai. Tapi, ternyata ada sisi lain yang dapat digali dari sebuah perayaan Imlek. Salah satunya, menyambangi kampung Pulo Geulis yang terletak di Kota Bogor, di tengah sungai Ciliwung.

Pulo Geulis menyimpan banyak jejak sejarah kerajaan Sunda, Padjdjaran. Secara bersamaan, Pulo Geulis juga memiliki sejarah berdirinya klenteng tertua di Bogor bernama Phan Ko Bio yang bisa menjadi pilihan destinasi histori.

Jamu Herbal Legendaris

Selain itu, jika kita melihat ribuan tahun ke belakang, suku Tionghoa-lah yang kali pertama melakukan percobaan obat-obatan herbal yang bahkan kita gunakan sampai sekarang.

Liem Kim Bow, tokoh bersejarah di Pulo Geulis sekaligus pendiri toko “Soember Sehat” meracik lebih dari 30 jenis jamu herbal yang dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Toko ini sangat terkenal di Bogor dan menyebar hingga ke Sukabumi.

Dahulunya, Pulo Geulis ini merupakan tempat peristirahatan leluhur kerajaan Padjadjaran sejak tahun 1482 hingga 1521 yang dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sementara lokasi Klenteng Phan Ko Bio sendiri ditemukan pada tahun 1703 dan sudah ada penghuninya yakni orang-orang Sunda dan orang-orang Tionghoa.

“Orang Tionghoa itu tidak sembarang membuat rumah ibadah, harus sakral dan strategis. Sakral karena tempat ini diyakini sebagai peninggalan leluhur Padjadjaran, strategis karena berada di tepi sungai ciliwung,” tangkas Bram, pengurus Klenteng Phan Ko Bio.

Perbedaan Menyatukan Mereka

Pulo Geulis menjadi pemukiman yang dikenal karena kerukunan warganya, dimana suku Sunda dan suku Tionghoa dapat hidup berdampingan dengan damai. Tidak hanya itu, Klenteng Phan Ko Bio, memiliki kisah yang sangat unik dan menarik.

Bila perayaan Imlek tiba, klenteng ini digunakan untuk suku Tionghoa yang merayakan Imlek. Mereka bersuka cita, beribadah dan berdoa. Namun, siapa sangka, ternyata Klenteng ini juga dapat digunakan untuk kegiatan warga sunda yang notabene muslim di Pulo Geulis seperti pengajian, tawasulan, bahkan sembahyang.

Klenteng Phan Ko Bio sendiri baru bisa digunakan sembahyang pada tahun 2007, namun untuk ziarah, pengajian, tawasulan dan wisata religi sudah berlangsung sejak dahulu.

“Perbedaan itu jangan kita samakan, perbedaan itu harus kita satukan. Bersatu dalam perbedaan itu akan lebih indah,” ujar Bram.

Dengan terungkapnya kisah di Pulo Geulis ini, bisa menjadi contoh bahwa sejarah pun telah menyatukan kita dalam perbedaan. Sejarah pun seakan menuntun kita bahwa perbedaan bukan suatu hal yang malah dijadikan terciptanya perang. (Tim Liputan GenPI Bogor)

Tinggalkan Balasan