JAKARTA – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), menetapkan Kapal Pinisi asal Sulawesi Selatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, menerima langsung sertifikat dari UNESCO yang diserahkan oleh Duta Besar RI untuk Prancis, sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO di Kementerian Luar Negeri, Hotmangaradja Pandjaitan.

“Ditetapkannya Pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia adalah kebanggaan besar bagi rakyat Indonesia,” ujar Menlu Retno, Selasa (13/2/2018).

Wanita berkacamata itu mengatakan, penetapan dari UNESCO bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendukung pelestarian budaya nasional. Selain itu, pihaknya juga terus bekerjasama dengan pemangku kepentingan terkait dalam melestarian budaya dan kekayaan alam nasional.

“Setiap penetapan yang diberikan UNESCO kepada budaya atau kekayaan alam Indonesia, perlu diikuti dengan kebijakan pelestarian yang baik, termasuk penyuluhan kepada masyarakat,” ujar Menlu Retno.

Kapal Pinisi menambah daftar elemen budaya Indonesia yang masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Elemen-elemen budaya tersebut, yakni wayang (2008), keris (2009), batik (2009), angklung (2010), Tari Saman (2011), noken Papua (2012), Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015), serta satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Menteri Pariwisata Arief Yahya tersenyum bahagia mendengar kabar ini. Bagaimana tidak, selama ini, Kementerian Pariwisata selalu menggunakan desain Kapal Pinisi dalam pameran-pameran di luar negeri.

Bahkan, desain kapal Pinisi kerap menjadi desain terbaik dan menerima banyak penghargaan. Sepanjang tahun 2016, Indonesia juara 46 kali di 22 negara. Sedang tahun 2017 ini juara 11 kali di 6 negara. Rata-rata menggunakan desain booth replika Pinisi.

“Semua karena filosofi desainnya, kita lebih kuat. Replika kapal Pinisi itu sangat Indonesia. Memberi kesan Indonesia, karena punya sejarah panjang berabad-abad lalu,” kata Menpar Arief Yahya.

Selain itu,Kapal Pinisi itu merujuk pada arah pengembangan destinasi Indonesia yang menuju bahari. Tujuh dari 10 Bali Baru yang dikembangkan Pemerintah Presiden Joko Widodo ini adalah wisata bahari, menaikkan peran maritime di tanah air. Dari Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sutra dan Morotai Maltara, semua bahari.

Karena itu, konsisten dengan pilihan Pinisi ini akan memperkuat image Indonesia yang kaya akan potensi bahari. Lalu barang-barang yang khas, dan didatangkan langsung dari Indonesia, itu juga semakin memperkuat keyakinan Menpar Arief Yahya. “Kapal Pinisi memang layak masuk dalam warisan budaya dunia UNESCO,” pungkas Menpar Arief Yahya.

SHARE
Admin
GenPINews.com merupakan buah karya dari Generasi Piknik Indonesia yang dikelola oleh Tim Redaksi GenPI News Indonesia dengan jaringan yang ada di seluruh Indonesia.

Leave a Reply