BALI – Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali menggelar konferensi bersama dengan Business School of Pukyong National University Busan, Korea Selatan. Sebanyak 80 orang hadir dalam event yang digelar dua hari pada 30 hingga 31 Januari 2018 di gedung Widyatula MICE STP Bali.

Mengusung tema “International Conference on Business Management and Tourism: Unique Knowledge Shaping in Our Hands”. Konferensi ini menyertakan beragam sesi yang relevan dengan topik bisnis manajemen dan pariwisata lintas dunia.

“Jumlah presenter dari Business School of Pukyong National University sebanyak 22 orang, dan STP Bali sebanyak 7 orang. Ini merupakan langkah dunia akademisi untuk mendukung pariwisata Indonesia.” ujar Ketua STP Bali, Dewa Gede Ngurah Byomantara di Denpasar Rabu (31/1).

Byo –sapaan akrab Dewa Gede Ngurah Byomantara– menjelaskan, konferensi ini dibagi dalam berbagai sesi. Semua mempresentasikan tentang pariwisata. Baik bagaimana mengukur, merawat dan mempromosikan suatu destinasi pariwisata.

“Ini merupakan ajang kita bertukar ilmu dalam kepariwisataan, sehingga nantinya kita memilik SDM pariwisata yang mumpuni. Sekaligus kita juga memperkenalkan destinasi Bali yang telah mendunia kepada peserta dari Korea Selatan,” ujar Byo.

Ucapan itu bukan omongan belaka, Menpar Arief Yahya, selalu mengingatkan bahwa bila ingin bersaing secara global harus menggunakan standar global. “Kegiatan ini juga salah satu tolak ukur untuk mengetahui standar global yang juga sejalan dengan visi STP Bali sebagai pusat unggulan di Asia Pasific,” ucapnya.

Setelah melakukan konfrensi, lanjut Byo, para presenter dan peserta yang berasal dari Korea tersebut menikmati berbagai destinasi wisata di Bali yang sudah sangat terkenal di dunia. Setelah berlangsungnya conference para peserta telah memesan paket wisata ke berbagai destinasi wisata di Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sependapat dengan pimpinan STP Bali tersebut. Untuk merealisasikan target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019, pariwisata Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia yang andal. Selain itu, menjadi garda terdepan dalam melayani dan menyambut wisatawan.

Menurutnya, pariwisata membutuhkan banyak profesi yang profesional. Mulai industri yang mumpuni sampai pemandu wisata yang cerdas sebagai garda terdepan penyambutan wisatawan.

”Destinasi kita semakin indah kalau dilayani dan dikelola oleh orang-orang yang profesional dan punya wawasan luas. Dan yang tidak kalah penting, saatnya kita siap bersaing dengan dunia internasional dalam persaingan dunia pendidikan,” katanya.

Leave a Reply